Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Aku Mencari Lelaki Setia Walaupun Bukan Siapa-Siapa

WORLDNETTIME.COM - Seseorang bisa memiliki banyak hal, tetapi belum tentu memiliki seseorang yang benar-benar tinggal.

Di tengah dunia yang sering mengukur pasangan melalui jabatan, harta, popularitas, dan status sosial, masih ada manusia yang memilih ukuran berbeda: kesetiaan.

Seorang perempuan mungkin tidak membutuhkan lelaki yang memiliki segalanya. Ia bisa saja membangun kehidupan bersama pria yang belum memiliki rumah, kendaraan, jabatan, atau nama besar—selama ada satu hal yang diyakininya tidak mudah dibeli: komitmen.

Kesetiaan bukan sekadar “tidak berpaling”. Kesetiaan adalah konsistensi antara ucapan, tindakan, tanggung jawab, dan pilihan ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Begitu pula keamanan dalam hubungan tidak semata-mata berarti uang atau materi. Keamanan emosional, kepastian komitmen, rasa dihargai, dan kemampuan menghadapi persoalan bersama juga merupakan bagian penting dari kualitas sebuah hubungan.

Maka, siapa sebenarnya yang lebih berharga: seseorang yang mempunyai segalanya tetapi tidak setia, atau seseorang yang belum mempunyai apa-apa tetapi bersedia membangun segalanya bersama?

Jawabannya tidak universal.

Ilmu tentang hubungan manusia justru menunjukkan bahwa kualitas relasi dipengaruhi banyak faktor—komitmen, kepercayaan, komunikasi, kepuasan hubungan, kesesuaian nilai, serta kemampuan pasangan menyelesaikan konflik. Karena itu, menyederhanakan perempuan hanya sebagai pencari keamanan atau laki-laki hanya sebagai pencari kesetiaan adalah generalisasi yang terlalu sempit.

Di sinilah letak paradoks kehidupan:

Yang miskin secara materi belum tentu miskin secara nilai.

Yang kaya secara materi belum tentu kaya secara komitmen.

Yang terkenal belum tentu berarti.

Yang sederhana belum tentu tidak berharga.

Hubungan bukan kontrak untuk mencari manusia sempurna.

Hubungan adalah proses dua manusia yang sama-sama membawa kekurangan, kemudian memutuskan apakah kekurangan itu akan menjadi alasan untuk pergi atau menjadi ruang untuk bertumbuh.

Tetapi kesetiaan juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menerima hubungan yang merendahkan, manipulatif, atau tidak sehat.

Sebab setia tanpa penghormatan hanyalah keterikatan.

Dan mencintai seseorang yang “bukan siapa-siapa” bukan berarti menurunkan standar kehidupan.

Justru sebaliknya.

Mungkin seseorang sedang memilih manusia yang belum menjadi siapa-siapa di mata dunia, tetapi sudah menjadi seseorang di dalam hidupnya.

Pada akhirnya, kehidupan tidak selalu bertanya:

"Berapa banyak yang kamu miliki?"

Kadang kehidupan bertanya jauh lebih sederhana:

"Ketika semuanya hilang, siapa yang masih memilih tinggal?"

Itulah paradoks manusia.

Kita mengejar dunia untuk menemukan nilai, padahal nilai seseorang sering kali terlihat ketika dunia tidak lagi memberinya apa-apa.

Posting Komentar

0 Komentar