![]() |
| Ilustrasi |
WORLDNETTIME.COM - Ada sebuah paradoks dalam relasi laki-laki dan perempuan: perempuan sering dinilai dari sikapnya, tetapi jarang ditelusuri dari perlakuan yang membentuk sikap tersebut.
Perempuan disebut berubah ketika mulai menjaga jarak.
Disebut dingin ketika berhenti mengejar.
Disebut keras ketika mulai berani berkata tidak.
Disebut terlalu sensitif ketika mempertanyakan sesuatu.
Tetapi pertanyaan jurnalistiknya justru sederhana:
Apa yang terjadi sebelum perempuan itu berubah?
Di sinilah relasi manusia perlu dibaca bukan sekadar dari perilaku yang tampak, melainkan dari rangkaian sebab yang melatarbelakanginya.
Dalam perspektif psikologi sosial, perilaku seseorang tidak berdiri di ruang kosong. Respons manusia dipengaruhi oleh pengalaman, pola komunikasi, lingkungan, persepsi terhadap keamanan relasi, serta perlakuan yang diterimanya. Karena itu, menjadikan satu perilaku sebagai bukti karakter tanpa melihat konteks berisiko menghasilkan kesimpulan yang tidak utuh.
PARADOKS PERTAMA
Lelaki meminta perempuan jujur, tetapi ketika kejujuran datang, justru memilih diam.
Perempuan berbicara tentang perasaannya.
Lelaki diam.
Perempuan bertanya.
Lelaki menghindar.
Perempuan akhirnya berhenti bicara.
Kemudian muncul tudingan:
"Dia sudah berubah."
Padahal diamnya perempuan bisa saja bukan perubahan karakter, melainkan perubahan respons setelah komunikasi berulang kali tidak memperoleh jawaban.
PARADOKS KEDUA
Lelaki ingin dihargai, tetapi terkadang lupa bahwa penghargaan dibangun melalui perilaku.
Rasa hormat tidak lahir hanya dari status sebagai pasangan.
Ia dibentuk oleh konsistensi, keterbukaan, tanggung jawab, batas yang sehat, dan kesediaan mendengarkan.
Karena itu, ketika seorang perempuan mulai kehilangan kepercayaan, pertanyaan yang lebih objektif bukan hanya:
"Mengapa dia tidak percaya lagi?"
Tetapi juga:
"Pengalaman apa yang membuat kepercayaan itu berubah?"
PARADOKS KETIGA
Perempuan sering disebut cermin lelaki, tetapi cermin tidak menciptakan wajah yang dipantulkannya.
Ungkapan "perempuan adalah cermin perilaku lelakinya" sebaiknya tidak dipahami secara literal.
Perempuan bukan objek yang bertanggung jawab atas karakter laki-laki.
Begitu pula laki-laki tidak bertanggung jawab atas seluruh perilaku perempuan.
Namun dalam sebuah relasi, perilaku seseorang dapat menjadi stimulus bagi respons pasangannya.
Kebaikan dapat melahirkan rasa aman.
Konsistensi dapat membangun kepercayaan.
Ketidakjelasan dapat melahirkan pertanyaan.
Pengabaian dapat menghasilkan jarak.
Dan komunikasi yang buruk dapat menciptakan dua orang yang sama-sama merasa tidak dipahami.
CATATAN RISET JURNALIS
Dalam membaca relasi, jurnalisme tidak seharusnya berhenti pada siapa yang terlihat emosional.
Jurnalisme perlu mencari:
fakta → kronologi → konteks → komunikasi → respons → perubahan perilaku.
Sebab perilaku yang terlihat hari ini bisa merupakan akibat dari proses yang berlangsung jauh sebelumnya.
Itulah sebabnya dalam relasi manusia, satu potongan peristiwa tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan cerita.
LELAKI, LIHATLAH CERMIN ITU
Jika perempuan di sampingmu semakin tenang, tanyakan apakah ia merasa aman.
Jika ia semakin diam, tanyakan apakah selama ini suaranya benar-benar didengar.
Jika ia semakin jauh, jangan buru-buru bertanya mengapa ia berubah.
Tanyakan pula:
"Apa yang telah terjadi hingga kamu memilih menjauh?"
Sebab terkadang perempuan tidak berubah karena berhenti mencintai.
Ia berubah karena belajar membaca keadaan.
Dan terkadang diam bukan tanda tidak peduli.
Diam adalah bahasa seseorang yang sudah terlalu lama berbicara tanpa merasa didengar.
Namun satu hal harus ditegaskan: tidak semua perubahan perilaku perempuan merupakan akibat perilaku laki-laki. Manusia memiliki kehendak, pengalaman, persoalan, dan pilihan masing-masing.
Karena itu, paradoksnya bukan tentang menyalahkan lelaki atau membenarkan perempuan.
Paradoksnya adalah:
Kita sering menilai reaksi seseorang tanpa pernah menyelidiki tindakan yang mendahuluinya
Di situlah tugas jurnalisme dimulai.
Bukan mencari siapa yang paling salah.
Melainkan mencari apa yang sebenarnya terjadi.
NETTI — Jurnalis Indonesia
Berpikir. Bertanya. Memeriksa. Berbicara berdasarkan fakta.

0 Komentar